Rp 11.500 ( USD 1 ), Bisa Buat Apa?

Rp 11.500 ( USD 1 ), Bisa Buat Apa? Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan dari @BankDunia melalui status #1, #2 dan #3. Melihat ini saya tertarik untuk mengirim balasan.

Mengapa saya mengirim balasan dan mengapa harus Pertamax yang saya kirim?

Saya hanya mencoba untuk menerjemahkan apa yang saya butuhkan dan apa yang saya lakukan bila dalam dompet terdapat Rp. 11.500 ( USD 1 ).

Saya adalah seorang pegawai dan seorang kepala rumah tangga yang harus bekerja setiap hari menempuh perjalanan dengan kendaraan roda dua yang saya miliki ke kantor. Dengan jarak dan waktu tempuh yang saya lalui dan habiskan setiap hari jumlah bahan bakar yang saya butuhkan kurang lebih 1,2 liter. Dengan harga pertamax 92 Rp 10.200 maka jumlah yang saya butuhkan kurang lebih Rp 12.240. Jadi sebenarnya Rp. 11.500 ( USD 1 ) masih kurang dari yang saya butuhkan setiap hari.

Bahan bakar adalah kebutuhan mobilitas saya saat ini. Bisa dibilang adalah kebutuhan utama selain pangan, sandang dan papan.

Pangan, Sandang dan Papan?

Sebagai seorang urban yang sudah 9 (sembilan) tahun bekerja di Ibukota, saya merasa sebenarnya saya cukup secara finansial untuk ketiganya. Dengan bisa makan, memiliki pakaian yang pantas dan tempat tinggal di pinggiran kota ini saya rasa sudah cukup membuat tenang sebagai kepala rumah tangga.

Saya merasa semuanya cukup untuk saya dan keluarga. Namun dengan finansial untuk mencukupi ketiganya mengharuskan saya menerima konsekuensi yang ada, jarak dan waktu tempuh ke tempat saya bekerja menjadi jauh tentunya mempengaruhi biaya transportasi yang ada.

Transportasi Umum?

Beberapa hari yang lalu saya mencoba untuk meninggalkan ketergantungan saya terhadap kendaraan pribadi dan mencoba transportasi umum, yaitu bus.

Dengan menggunakan bus umum untuk berangkat, saya harus menggunakan angkot ke terminal, dengan ongkos Rp 2.500. Dan untuk ke kantor dengan bus patas AC dengan ongkos Rp 8.000. Dari pemberhentian saya berjalan kaki 500 meter untuk sampai di kantor. Waktu tempuh yang diperlukan adalah 1 jam 45 menit.

Pulangnya saya mencoba menggunakan bus transjakarta yang disediakan oleh Pemda DKI dengan ongkos Rp. 3.500 namun harus saya bayar 2 (dua) kali karena kurangnya informasi kapan saya harus berpindah bus. Dari halte tempat saya turun masih diperlukan ongkos ojek atau angkot Rp 3.000 untuk sampai di ujung gang depan rumah saya. Waktu tempuh yang diperlukan adalah 3 jam 15 menit.

Jadi berapa ongkos yang saya habiskan untuk ke kantor dalam sehari? Ongkos berangkat jika menggunakan Angkot dan Bus Patas AC : Rp 2.500 + Rp 8.000 = Rp 10.500, dan ongkos pulang dengan Bus Transjakarta dan angkot : Rp 3.500 * 2 + Rp 3.000 = Rp 9.500. Pada hari saat saya naik kendaraan umum saya menghabiskan Rp 20.000 untuk ongkos perjalanan.

Kesimpulan

Dengan biaya yang harus dihabiskan untuk ongkos, sampai saat ini saya masih akan sangat bergantung pada kendaraan pribadi yang saya miliki dengan resiko yang ada. Dan mungkin tidak hanya saya yang memiliki kesimpulan ini mengingat banyaknya pengguna kendaraan pribadi terutama motor yang berseliweran.

Kenapa saya tidak membalas dengan premium? Saya hanya ingin menggunakan standar yang lebih tinggi untuk menggambarkan kondisi yang ada. Dan selain itu saya lebih sering mengisi bahan bakar yang setingkat dengan pertamax 92 untuk perawatan mesin.

Perhitungan minimum yang mungkin bisa dioptimalkan bila menggunakan kendaraan umum adalah dengan menggunakan Bus Transjakarta dan angkot, yaitu ( Rp 3.500 + Rp 3.000 ) * 2 = Rp 13.000. Dan ternyata masih lebih mahal dari pada menggunakan kendaraan pribadi. Dan waktu tempuh? Oh.. *tutup-mata*

Mungkin ini adalah pe-er Pemda DKI yang akan sulit untuk diselesaikan…

Leave a Reply