Reputasi Tak Seindah Etika Profesi

Semua yang mengawali membangun profesi pasti berpikir untuk profesional. Profesional itu semacam semua hal yang baik dan lurus yang bisa disebut reputasi. Dokumentasi sebagai kodifikasi reputasi itu tertuang dalam etika profesi yang bersama-sama dibangun bersama rekan seprofesi. Jadi, etika profesi itu layaknya kode, perlu dirumuskan dan ditulis.

Etika profesi itu indah tertulis. Rumus baku yang tertuliskan layaknya prosedur baku sebuah program yang berjalan dalam mesin kehidupan. Kehidupan yang penuh intrik dalam mempertahankan kebutuhan dan kepentingan, bukan lagi yang membuat bisa bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Makhluk Sosial yang Disebut Manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu memerlukan bantuan orang lain. Mereka akan berkumpul dengan siapa saja yang dapat memenuhi kebutuhan dan hasrat hidup mereka. Kebutuhan dan hasrat hidup lah yang membuat manusia bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Kebutuhan dan hasrat hidup adalah awal dari semua kegiatan manusia. Mendapat dan mewujudkan adalah sebuah pencapaian dan kesempurnaan pemenuhan jiwa. Mencari dan membangun adalah sebuah proses panjang bernama kehidupan.

Bantuan dan hasrat hidup masing-masing orang berbeda. Pendefinisian atas kebutuhan dan hasrat hidup ini membentuk kans bagi manusia lain, yaitu pekerjaan atau profesi.

Membentuk dan Memanfaatkan Kans

Setiap kebutuhan dan hasrat hidup memiliki aspek yang harus dipenuhi dan setiap aspek pemenuhan tersebut merupakan kans bagi yang manusia lain. Siapa pun yang mampu melihat dan memanfaatkan kans yang muncul itu akan mendapat keuntungan lebih. Inilah yang menjadi dasar pembentukan pekerjaan atau profesi.

Keuntungan merupakan nilai tambah yang didapat dari orang lain atas balas jasa dari pekerjaan yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hasrat hidup. Namun tidak akan semudah melihat dan mengerjakan, karena setiap orang memiliki sudut pandang lain dalam mengukur kepuasan pemenuhan. Standar baku mungkin bisa ditetapkan, tapi sudut pandanglah yang menentukan besaran keuntungan yang didapat.

Pembentukan pekerjaan atau profesi adalah akibat dari kesepakatan standar baku pengukuran ini. Penyederhanaan dan perumusan standar baku dikodifikasi sebagai sebuah etika profesi yang menjadi acuan pelaksanaan dan ukuran profesionalisme.

Reputasi sebagai Ukuran Kepuasan atas Kans

Ukuran profesionalisme berupa etika profesi seringkali hanya mengatur secara umum mengenai profesi dan sumber daya manusianya.  Ukuran ini berlaku dan mengatur aspek-aspek pekerjaan yang umum dan standar pada batas pemenuhan kebutuhan dan hasrat hidup. Kepuasan atas standar yang sudah ditetapkan dan dirumuskan itu akan terlihat dari yang menerima manfaat pekerjaan, yang tentunya akan menjadikan rujukan bilamana tercukupi kebutuhan dan hasrat hidupnya.

Aturan mengenai aspek-aspek umum dan standar batas pemenuhan ini untuk menjaga reputasi profesi. Menjaga agar kepuasan pemenuhan kebutuhan dan hasrat hidup tetap terjaga pada batas. Membuat batas mengenai kepentingan dan manfaat profesi dalam rangka bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Berbagi Peran Kehidupan

Setiap manusia memiliki peran dalam kehidupan, tertuang dalam pekerjaan dan profesinya. Namun seringkali karena kebutuhan dan hasrat hidup pribadinya, memiliki ukuran yang lebih tinggi baik dalam pemenuhan maupun pengukuran. Bukan tak mungkin memainkan peran ganda.

Ukuran dan peran inilah yang membuatnya harus memiliki prioritas dalam setiap tindakan. Seringkali terlihat tak punya etika. Banyak contoh yang terjadi utamanya berkaitan dengan tindakan dalam bersosialisasi dan terlebih lagi politik yang penuh dengan intrik kepentingan. Tak jarang salah bertindak-tanduk dalam bersosial media dan berucap menjadi gegeran teman seprofesi. Semua akan cepat menyebar karena sosial media.

Sebagai penikmat media sosial yang bijak, perlulah kita memilah setiap berita dan fenomena yang terjadi. Misalnya ketika ada pembagian sembako, belum tentu ada keikhlasan di sana. Jangan menjadi korban jempol sakti demi kenikmatan orang yang memanfaatkannya.

Mungkin kalo ini kita bisa saja mengesampingkan kegilaan sesaat demi kenikmatan bersama. Memang mereka yang waras karena mengejar kebutuhan dan hasrat hidup yang tanpa batas.

Bacaan:

1. Etika profesi hukum: norma-norma bagi penegak hukum, Oleh E. Sumaryono, Hal 35. Mengapa kode-kode etik profesi perlu ditulis?

Leave a Reply