Pandemi, Hari Raya dan Budaya Baru

Sudah setahun lebih dari tulisan saya terakhir, buah pikir logika gila saya tidak tertuang satu pun lewat tulisan, pun dalam beberapa bulan dirumahkan. Mungkin memang belum waktunya berbuah, kurang asupan nutrisi perangsang buah alias kurang piknik.

Kurang piknik dan utamanya terkena dampak pandemi membuat beban psikologis yang tidak mampu dihindari. Meskipun tidak sampai terkena dampak pemutusan hubungan kerja, namun secara alam bawah sadar ketakutan dan kebimbangan mengenai masa depan tetap menghantui.

Bencana Internasional: Pandemi Covid-19

Dari definisi, pandemi adalah penyakit yang menyebar secara global meliputi area geografis yang luas, melewati batas negara bahkan benua. Tidak ada sangkut paut mengenai tingkat keparahan penyakit dalam penyebarannya, namun lebih terpaut pada wilayah penyebaran.

Luasnya penyebaran penyakit ini lebih bersangkut pada jenis penyakit yang baru sehingga sistem kekebalan tubuh manusia belum dapat menahan serangan penyakit ini. Sistem kekebalan tubuh dapat terbentuk bagi yang telah terkena dan mampu bertahan dari serangan penyakit. Cara lain adalah dengan imunisasi atau penggunaan vaksin, namun atas Covid-19 sampai dengan saat ini belum ada vaksin yang dapat didistribusikan secara luas.

Akhirnya, pandemi ini akan mengubah pola hidup manusia. Budaya akan berubah.

Hari Raya di Tengah Pandemi

Salah satu yang terlihat berubah langsung adalah tata cara perayaan Hari Raya. Dimulai dari Hari Raya Nyepi, Pekan Paskah, Hari Raya Waisak dan Hari Raya Idul Fitri semua dilalui dengan protokol masa pandemi. Hingar bingar perayaan dan utamanya tata cara perayaan pun harus ditekan sesuai aturan protokoler, tidak nyaman.

Ketidakpatuhan nampak di media sosial, karena memang tidak nyaman berada dalam kondisi tertekan dan di tengah ketidakpastian. Sering muncul pandangan membandingkan antara tingkat kepercayaan dan ketakutan akan pandemi. Manusiawi, mencari titik untuk dituju agar memiliki dorongan tetap maju dan kuat meski dibayangi.

Semua terkena dampak, tidak memandang hari raya apa yang dirayakan. Dan semua belajar dan memanfaatkan sarana dan prasana yang ada agar tetap dapat saling menguatkan.

Budaya Melindungi dan Menjaga

New normal akan berlaku segera. Protokol dalam berkendara, bersekolah, bekerja, bahkan bertamu akan berubah. Pola hidup bersih dan sehat dimulai dengan mencuci tangan sesering mungkin merupakan awal. Salam dengan berjabat tangan akan dihindari sebagian orang, dan mungkin akan membuat tak nyaman.

Bila berkaca dari budaya luar, pola mencuci tangan sesering mungkin dan salam tanpa jabat tangan sudah berlaku lama di negara Jepang. Pola hidup dan perilaku ini nampaknya meminimalisir dampak pandemi. Keduanya ditiru dalam protokol kesehatan dan saran dalam beberapa tata cara ibadat keagamaan.

Patuh dan percaya dengan protokol pemerintah seperti Vietnam yang kondisi masyarakatnya sepaham juga nampaknya patut menjadi rujukan. Dengan mengesampingkan paham yang ada di sana tentunya.  Meskipun tingkat kepatuhan dan kepercayaan masyarakat ini juga didorong karena keseragaman paham.

Namun yang pasti, budaya dan perilaku akan berubah. Entah siapa yang akan jadi rujukan.

Kog jadi kaku? Mungkin memang perlu refreshing.

Leave a Reply