Golput (Golongan Putih) dan Milenial

Golongan putih atau yang disingkat golput adalah istilah politik di Indonesia yang berawal dari gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 yang merupakan Pemilu pertama di era Orde Baru. Gerakan yang sudah lama, namun masih menghantui meski reformasi telah bergulir.

Golput Jaman Dulu

Golongan putih (golput) pada dasarnya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum hari pemungutan suara pada pemilu pertama di era Orde Baru dilaksanakan. Pesertanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik. Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo.

Dipakai istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta Pemilu bagi yang datang ke bilik suara. Namun, kala itu, jarang ada yang berani tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Golongan putih kemudian juga digunakan sebagai istilah lawan bagi Golongan Karya, partai politik dominan pada masa Orde Baru.

Continue reading “Golput (Golongan Putih) dan Milenial”

Reputasi Tak Seindah Etika Profesi

Semua yang mengawali membangun profesi pasti berpikir untuk profesional. Profesional itu semacam semua hal yang baik dan lurus yang bisa disebut reputasi. Dokumentasi sebagai kodifikasi reputasi itu tertuang dalam etika profesi yang bersama-sama dibangun bersama rekan seprofesi. Jadi, etika profesi itu layaknya kode, perlu dirumuskan dan ditulis.

Etika profesi itu indah tertulis. Rumus baku yang tertuliskan layaknya prosedur baku sebuah program yang berjalan dalam mesin kehidupan. Kehidupan yang penuh intrik dalam mempertahankan kebutuhan dan kepentingan, bukan lagi yang membuat bisa bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Makhluk Sosial yang Disebut Manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu memerlukan bantuan orang lain. Continue reading “Reputasi Tak Seindah Etika Profesi”

Jempol Sakti Demi Piti

Semakin masifnya pemberitaan media daring membuat semakin bingung bagi saya. Logika saya semakin diasah, dan semakin menggila. Bagaimana tidak, saya harus makin jeli membaca judul yang membuat penasaran dan isi yang tidak sejalan dengan judul.

Jempol Sakti

Semua dimulai dengan perkembangan media sosial dan sosial media. Tempat membangun jejaring yang luas tanpa batas ruang dan waktu dalam wadah daring. Semua bisa mengungkap rasa dan karsa tanpa batas.

Entah media sosial yang mana yang memulai, tanda atau simbol pun digunakan sebagai ungkapan terhadap apa yang dibagikan oleh orang lain. Berawal dari beragam ekspresi wajah, hingga kode lain termasuk jempol.

Dan, simbol dan tanda ini pun menyebar dengan cepatnya dan masuk dalam semua platform sosial daring. Continue reading “Jempol Sakti Demi Piti”