Pembantu, Pendidikan dan Gengsi

Beberapa hari yang lalu saat disela bekerja rekan saya sempat bercerita tentang betapa susahnya dia mencari seorang pembantu alias PRT alias pramuwisma alias ART (asisten rumah tangga). Sampai dengan saat ini dia belum mendapatkan satu pun yang mau.

Saya sendiri pernah hendak mencari namun saya urungkan setelah mendengar dan melihat kesulitan dan fenomena yang terjadi serta beberapa pertimbangan lainnya.

Dari pembicaraan itu saya mencoba berpikir sedikit lebih gila tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ada beberapa masalah yang terjadi di sini :

  1. Profesi
    Kebanyakan orang akan melihat profesi ini adalah sesuatu yang rendah karena pekerjaan yang dilakukannya. Bekerja kesana kemari sesuai dengan arahan majikan, bangun lebih pagi tidur lebih malam, dimarahi bila melakukan kesalahan, dan rekan-rekannya, merupakan gambaran yang selalu ada di benak setiap orang.
    Banyak orang dari tempat lahir saya yang sebenarnya masih bergelut dengan profesi ini dan mereka berhasil. Terbukti dengan apa yang telah mereka buat untuk keluarga mereka. Namun mereka tidak melakukan itu semua di negeri ini, merekalah pahlawan devisa. Pekerjaan yang sama dengan geografis yang berbeda menjadi masalah.
  2. Pendidikan
    Saya menempatkan masalah pendidikan pada posisi kedua. Masalah yang saya soroti adalah masalah program wajib belajar (wajar) yang dicanangkan pemerintah. Seorang murid SMP mana yang bercita-cita jadi pembantu?
    Di sekolah siswa mempelajari segala bidang ilmu. Mempelajari banyak hal dengan tujuan masing-masing. Salah satunya adalah menyangkut perihal “kewajaran” dalam hal keilmuan. Terkadang mereka harus mempelajari di luar batas kemampuan mereka dan dengan tingkat pengawasan personal yang kurang menumbuhkan kecenderungan yang kurang baik, contoh : mencontek.
  3. Tontonan
    Mungkin di sini saya tak perlu menuliskan banyak komentar percuma. Silakan saja lihat tayangan televisi (bagi yang punya).
    Mendidik? Menumbuhkan kreatifitas?
    Belanja? Plesir? Politik? Adu domba? Hiburan sekejap?
  4. Gengsi
    Posisi puncak saya munculkan. Dan ini merupakan gabungan dari pemahaman mengenai profesi, latar belakang pendidikan, dan tontonan yang tidak menuntun terakumulasi menjadi sebuah gengsi pribadi.
    Apakah seseorang mau dianggap rendah? Apakah dengan latar belakang pendidikan tinggi orang mau dianggap remeh? Dengan mimpi sesuai tontonan yang ada akankah bisa tercapai dengan profesi?
    Memang ini semua tergantung pada pribadi masing-masing. Bagaimana dia menanggapi predikat yang menempel pada dahinya (yang pasti dilihat orang) dan melanjutkan profesinya. Beberapa orang yang saya kenal pernah mengeluhkan dengan jabatan pegawai yang ia sandang pekerjaan bak seorang pembantu.

Dari keempat hal tersebut silakan Anda coba telaah sendiri kebenarannya. Saya hanya berpikir lebih gila. Segala hal setelah Anda membaca ini bukan merupakan tanggung jawab saya.

Memang tak ada salahnya Anda menghargai diri Anda lebih dari yang Anda terima saat ini. Tapi apakah Anda bisa memberi lebih dari yang telah Anda kerjakan saat ini?

Silakan berhitung ulang berapa harga Anda…

Leave a Reply