Fenomena Bagi Sembako: Studi Kasus MKRI

Beberapa hari yang lalu santer terdengar isu kudeta yang akan dilakukan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI). Apa yang menjadi isu tidak terjadi namun yang ada adalah kegiatan bagi-bagi bingkisan berisi sembako. Alasan mereka dengan melakukan kegiatan tersebut adalah ingin mempertontonkan kondisi kemiskinan negeri dalam pemerintahan yang sedang berlangsung. Dari kejadian ini saya ingin membahas beberapa fenomena yang terjadi.

Latar Belakang

Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang menjadi fenomena dan sebagian yang ter-ekspos di media massa adalah kekecewaan dari para penerima bingkisan.

Ada bagian yang disisipkan. Kekecewaan pertama adalah adanya kegiatan, atau akan saya sebut motif, lain yang dilakukan sebelum kegiatan utama yang ditunggu oleh massa yang berkumpul.

Kegiatan tidak tepat waktu. Dengan adanya motif lain yang dilakukan sebelum kegiatan utama tersebut secara otomatis membuat kegiatan utama akan tidak tepat waktu dilaksanakan.

Isi bingkisan sembako yang mengecewakan. Dari beberapa liputan media massa terdapat keluhan mengenai isi bingkisan yang tidak sebanding dengan waktu yang telah dihabiskan untuk menunggu waktu pembagian bingkisan.

Fenomena Positif

Dengan kegiatan ini saya melihat 2 (dua) hal utama yang menjadi fenomena positif di masyarakat kita.

Masyarakat yang sudah mulai cerdas. Banyak yang sudah bisa memilih hal yang terpenting, yaitu bingkisan sembako, daripada kegiatan sisipan lain yang menghabiskan waktu.

Masyarakat kita yang aktif. Dari kegiatan yang menghabiskan waktu banyak hal yang lebih bermanfaat bisa dilakukan di tempat lain. Kegiatan yang lebih berguna buat keluarga mereka.

Fenomena Negatif

Namun saya juga merasa adanya fenomena negatif dari kegiatan tersebut.

Masyarakat yang apatis. Muncul benih-benih ketidakpedulian akan kemajuan bangsa dengan perkembangan kondisi politik yang semakin tidak menentu.

Masyarakat yang pragmatis. Semakin terlihat adanya pola pikir ekonomi yang mendatangkan manfaat secara praktis dan instan.

Fenomena yang saya utarakan di sini mungkin tidak sepenuhnya benar. Semoga saja. Fenomena ini mungkin hanyalah logika gila saya yang saya tuangkan dalam tulisan.

Catatan saya, pertama, mungkin saja panitia pembagian bingkisan sembako ini harus meneliti benar daftar penerima kupon agar tidak salah sasaran seperti halnya program-program pemerintah dan terhembusnya isu negatif. Kedua, saya tidak memihak politik kepada siapapun dalam hal pengambilan contoh kasus ini karena saya sendiri pun masih bingung menentukannya.

Terlalu banyak logika gila yang membuat saya sendiri bingung.

Leave a Reply