Sosialisasi ala Sumbu Pendek

Halo, lama tak bergila-gilaan. Lama tak menulis di sini membuat pikiran saya kembali sedikit waras. Semoga saja dengan kembali menulis kegilaan saya kembali lagi. Selamat menikmati lagi Logika Gila. Dan mari kita membahas yang lagi hits, yaitu sumbu pendek.

Eh, tentunya Anda sudah tahu kan mengenai sumbu pendek ini? Bila belom silakan terlebih dahulu googling mengenai sumbu pendek ini.

Sudah tahu? Anda mencibir mereka? Ingin mereka hilang dari muka bumi? Kalo iya, apa bedanya Anda dengan mereka? 😀

Proses Sosialisasi

Tapi, tahukah Anda, akan lebih mudah membiarkan mereka bergentayangan di dunia maya. Anda tahu mengapa? Karena kehidupan mereka bersosialisasi itu sangat menguntungkan bagi yang mengetahui cara memanfaatkannya.

Suka dan Tidak Suka

Apa yang Anda ingat sesuatu dengan ini? Jempol ke atas dan jempol ke bawah, bertebaran di semua media sosial. Dan betapa mudahnya menekan, tentunya ini sangat disukai kaum sumbu pendek.

Ya, saat ini semua media sosial menggunakan jempol, sebagai organ manusia yang paling banyak menggerayangi layar hp, untuk menjadikannya patokan ukuran sosial. Bagaimana tidak, apa yang bisa membuat sebuah algoritma semacam edge-rank dikembangkan kalau bukan karena ini?

Nah, nyatanya sampai saat ini pun banyak para pelaku pemasaran menggunakan pula metode ini untuk mengukur tingkat kualitas produk mereka. Ketika saya bilang produk, ini bisa saja barang, jasa atau pun ide/opini.

Dan berapa banyak orang yang sudah menjadi kaya karena adanya jempol ini? Dan siapa yang menjadikannya kaya?

Ikuti Saya

Haha, kalo yang ini pasti semua sudah tahu. Dipopulerkan oleh media sosial dengan ikon burung biru tentunya siapa yang tak tahu. Tak perlu kenal secara pribadi. Bila ingin kenal, ikuti saja. Mudah, ‘kan?

Mengikuti seseorang bisa dibilang kepo.

Namun di sisi lain, hal ini menunjukkan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu yang diikuti. Dengan kata lain siapa saja yang memiliki banyak pengikut memiliki banyak pengaruh.

Demikiankah? Kalo tidak, buat apa banyak akun dijual atau penyedia akun follower yang bergentayangan?

Endorse

Ketika jaman tulisan sudah mulai dianggap ‘kuno’, media sosial pun beralih ke arah yang lebih sensual, eh salah, visual. Mengingat manusia makhluk visual, dimana sebagian besar otak manusia digunakan untuk mengolah data visual, perkembangan ini pun diterima dengan ‘lapang dada’.

Media sosial berbasis gambar dan video pun merajai. Namun sekali lagi, tidak ada yang lepas dari dekapan bisnis. Yang dahulu memasang iklan di media massa, kini beralih berburu selebriti media sosial untuk memamerkan produknya, a.k.a endorse.

Perkembangan yang cukup terarah, bukan?

Kontra Indikasi

Ya, media sosial saat ini macam minum obat saja. Membuat ‘sakaw’ orang. Membuat linglung yang tak disapa semenit saja.

Desain yang telah dibuat mengarahkan kepada kenyamanan dan kebebasan penggunanya. Tidak ada yang membatasi.

Itulah sebabnya kaum yang kita bahas ini menjadi sebuah gerakan massal yang sepatutnya dipahami. Sekali saja Anda salah membaca, pasti habis kena ‘bully’.

Mengikuti Arus

Pilihan ada di tangan Anda. Bagaimana menikmati arus ini dengan menjadi salah satunya atau sebagai pengguna. Buatlah Anda nyaman, dan nikmati saja.

Tersinggung atau tidak, itu bukan urusan saya. Toh, namanya Logika Gila, tak apalah menikmati sedikit bandwidth menggunakan teknologi lama.

Leave a Reply